Obat HIV Lini 3

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh menjadi lemah sehingga tidak dapat melawan infeksi dan penyakit. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari acquired immunodeficiency syndrome yaitu sekumpulan gejala penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga dapat mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus HIV.

Dengan kata lain AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV, ketika tubuh tidak lagi bisa melawan infeksi yang dapat mengancam jiwa. Dengan diagnosis dini dan mengetahui gejala HIV AIDS dan obat hiv yang efektif, kebanyakan orang dengan HIV tidak akan terus mengembangkan AIDS.

Gejala AIDS

Definisi AIDS termasuk semua orang terinfeksi HIV yang memiliki kurang dari 200 sel CD4+ per mikroliter darah. Definisi ini juga mencakup 26 kondisi penyakit yang umum pada penyakit HIV lanjut, tetapi yang jarang terjadi pada orang sehat.

Artinya orang yang terkena HIV karena kekebalan tubuhnya lemah, maka akan mudah terserang infeksi baik oleh bakteri, virus, jamur, parasit, maupun organisme lainnya kondisi ini disebut dengan infeksi oportunistik. Jadi yang menjadi gejala dan penderitaan adalah infeksi yang menyerang (oportunistik), bukan penyakit AIDS itu sendiri.

Tanda-tanda dan gejala AIDS yang merupakan tanda-tanda infeksi oportunistik adalah sebagai berikut:

– Keringat berlebihan di malam hari

– Sulit atau sakit saat menelan

– Menggigil atau demam lebih tinggi dari 100 F (38 C) selama beberapa minggu

– Batuk, karena seringnya terkena peradangan atau infeksi di tenggorokan.

– Sesak napas, bisa terjadi akibat pneumonia atau paru-paru basah yang sering disebabkan oleh mikoorganisme pneumocystic carinii.

– Diare kronis, maksudnya adalah menderita diare yang lama meskipun telah diobati namun tak kunjung sembuh.

– Bintik-bintik putih Persistent atau lesi yang tidak biasa di lidah atau di mulut (sariawan)

– Penglihatan kabur dan terdistorsi

– Sakit kepala

– Kelelahan yang terus menerus

– Berat badan turun drastis

– Ruam kulit atau benjolan

Obat ARV

Antiretrovirals (ARV) telah diakui dunia sebagai obat yang bisa digunakan untuk mengobati HIV/AIDS. Namun, ARV belum mampu menyembuhkan HIV secara menyeluruh.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 87 Tahun 2014 disebutkan, ARV berguna untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

ARV bekerja dengan cara mengontrol proses replikasi dari HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan membuat salinan palsu dari DNA. Hal itu membuat HIV tampak seperti bagian normal dari tubuh yang tidak mengancam, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak bisa mendeteksi virus dan keberadaan HIV dalam tubuh tetap aman.

Untuk mendapatkan manfaat ARV, pengidap HIV harus mengonsumsi obat seumur hidup. Sebab, jika tidak, pertumbuhan virus di tubuh tidak terkontrol dan bisa juga muncul resistensi terhadap obat.

Menghadapi tantangan resistensi HIV, efek samping anti-retroviral (ARV), dan ko-infeksi hepatitis C, Indonesia berencana meningkatkan pengadaan obat-obat penting secara terbatas dengan harga lebih terjangkau.

Obat-obatan itu antara lain ARV lini ke-3 bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang resisten dengan obat lini ke-1 dan 2, serta obat hepatitis C. Lini ketiga akan kita coba adakan namun jumlahnya lebih sedikit.

Sjamsuridjal mengatakan, untuk awalnya ARV lini ke-3 itu bisa didapatkan dengan gratis untuk ODHA yang membutuhkan. Namun jika kebutuhannya banyak akan dipikirkan kemudian pembiayaannya.

Selain obat lini ketiga, Indonesia juga berencana menyediakan alternatif bagi Efavirenz, salah satu jenis ARV lini pertama yang banyak dipakai.

Efavirenz sebenarnya obat yang menyenangkan dengan efek samping pada fungsi hati lebih rendah. Tapi ada satu hal yang tidak disukai dari obat ini, yaitu membuat melayang, dan halusinasiEfek tersebut akan memengaruhi kualitas hidup ODHA. Indonesia berencana menyediakan Rilpivirine sebagai alternatif Efavirenz. Efek samping obat itu lebih sedikit namun kekuatannya menghambat HIV juga lebih rendah.

Obat HIV Lini Pertama

HIV AIDS itu merupakan sebuah penyakit yang berbahaya & menular. Saat ini penyakit HIV AIDS sudah banyak dialami oleh berbagai kalangan, baik itu kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa.

HIV AIDS ialah sebuah penyakit yangg terjadi diakibatkan oleh virus yang menerjang sistem imunitas tubuh, sehingga mereka yang mengidap penyakit HIV AIDS ini berkurang kemampuannya untuk mempertahankan dirinya dari serangan berbagai penyakit karena obat hiv belum ditemukan.

Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang kerap dikenal sebagai istilah AIDS, adalah sebuah kondisi manusia yang sudah tidak lagi mempunyai sistem imunitas tubuh sehingga berbagai jenis penyakit bisa menerjang tubuh dan amat susah untuk dipulihkan.

Berikut gejala-gejala penyakit HIV/AIDS :

– Demam. Suhu tubuh mencapai 38 derajat Celsius dan biasanya diikuti sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening dan kelelahan.

– Nyeri Otot. Virus HIV biasanya menyerang kelenjar getah bening yang merupakan bagian dai sistem imun. Kelenjar ini berada di ketiak, paha dan leher, sehingga menyebabkan nyeri otot.

– Ruam Kulit, Terdapat bercak kemerahan di sekujur tubuh.

– Mual, Muntah, dan Diare.

– Berat Badan Turun. Penurunan berat badan terjadi karena diare yang berkepanjangan dan penyerapan asupan gizi yang tidak maksimal.

– Batuk Kering

– Radang Paru-Paru

– Kebas dan Rasa Kesemutan

– Infeksi Jamur

– Perubahan pada kuku. Seperti mudah patah, rapuh dan perubahan warna.

– Berkeringat di malam hari.

– Mudah dan sering lelah.

Walaupun menular namun HIV tidak tertular dari ciuman, air ludah, gigitan, bersin, berbagi perlengkapan mandi, handuk, peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, digigit binatang atau serangga seperti nyamuk. Cara yang utama agar virus bisa memasuki ke dalam aliran darah adalah:

– Melalui luka terbuka di kulit.

– Melalui dinding tipis di dalam anus atau alat kelamin.

– Melalui dinding tipis pada mulut dan mata.

– Melalui suntikan langsung ke pembuluh darah memakai jarum atau suntikan yang terinfeksi.

Obat HIV

ARV berguna untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

ARV bekerja dengan cara mengontrol proses replikasi dari HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan membuat salinan palsu dari DNA. Hal itu membuat HIV tampak seperti bagian normal dari tubuh yang tidak mengancam, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak bisa mendeteksi virus dan keberadaan HIV dalam tubuh tetap aman.

Terapi Antiretroviral (ARV) adalah terapi pengobatan bagi Orang dengan HIV. Di Indonesia kita kenal 2 jenis regimen terapi ARV yang sering kita kenal dengan Terapi Lini Pertama dan terapi Lini Dua.

Standar dalam menjalani pengobatan setidaknya menggunakan 3 jenis obat dari 2 golongan obat yang berbeda, Pengobatan dengan menggunakan 3 jenis obat sering sekali disebut dengan HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy).

Tujuan dari pengobatan ini adalah untuk menekan replikasi HIV dalam tubuh manusia. ARV sangat efektif untuk menekan angka kematian dan kesakitan pada orang dengan HIV sehingga dengan mengkonsumsi ARV dengan benar maka dapat meningkatkan kualitas hidup Orang dengan HIV.

Berikut beberapa golongan ARV adalah:

– NNRTI (Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors). Jenis ARV ini akan bekerja dengan menghilangkan protein yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri.

– NRTI (Nucleoside reverse transcriptase inhibitors). Golongan ARV ini menghambat perkembangan HIV di dalam sel tubuh.

– Entry inhibitors. ARV jenis ini akan menghalangi HIV untuk memasuki sel-sel CD4.

– Integrase inhibitors. Jenis ARV ini akan menghilangkan integrase, protein yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetik ke dalam sel-sel CD4.

– Protease inhibitors. ARV jenis ini akan menghilangkan protease, jenis protein yang juga dibutuhkan HIV untuk memperbanyak diri.

Nanas Sebagai Obat HIV

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein.

Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Virus HIV dia menyerang pembuluh darah atau peredaran darah. Sperma, ASI dan vagina berhubungan langsung dengan pembuluh darah sedangkan air mata, keringat, dan liur tidak berhubungan dengan peredaran darah dan keluar melalui permukaan kulit atau pori-pori kulit.

HIV-1 dan HIV-2 adalah dua tipe HIV, yang hanya dapat ditulari melalui selaput lender yang mengandung kerusakan (kecil). HIV-1 terdapat diseluruh dunia, sedang HIV-2 praktis hanya di daerah Afrika Barat. Nanas bisa dijadikan Obat HIV.

Penularannya terbatas pada kontak homoseksual (genitoanal), pengguna drugs melalui alat suntik, dan penerima darah terinfeksi via transfusi. HIV tipe 2 lebih lambat jalannya penyakit dan penularannya juga kurang lancar dibanding HIV-1, baik seksual maupun dari ibu ke anak.

Pada infeksi HIV dapat dibedakan 4 fase yaitu :

  1. Periode Jendela

– HIV masuk ke dalam tubuh sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah

– Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat

– Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini

– Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu – 6 bulan

  1. HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:

– HIV berkembang biak dalam tubuh

– Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat

– Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV

– Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

  1. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)

– Sistem kekebalan tubuh semakin turun

– Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya : pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll

– Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

  1. Tahap 4: AIDS

– Kondisi system kekebalan tubuh sangat lemah

– Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

Nanas (Ananas comosus) merupakan tanaman tropis yang bisa dijumpai di berbagai wilayah Indonesia meski diyakini berasal dari Brazil dan daerah sekitarnya. Buahnya bukan merupakan buah sejati, melainkan buah majemuk yang mengumpul jadi satu.

Salah satu kandungan yang sangat dominan dalam buah ini adalah bromelain, enzim penghancur protein yang sering dimanfaatan untuk melunakkan daging saat memasak. Rupanya selain untuk memasak, enzim ini juga bisa memecah protein dalam selubung virus penyebab AIDS yakni Human Immunnodeficiency Virus (HIV).

Khasiat ini dibuktikan dalam penelitian sederhana yang dilakukan oleh Dr.rer.nat Maruli Pandjaitan dan rekan-rekannya dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Swiss-German

Unversity, BSD Tangerang. Dalam penelitian awal ini, Maruli melibatkan 3 pasien HIV positif sebagai obyek uji.

Setelah diberi jus nanas secara rutin selama 4 minggu, ketiga pasien menunjukkan perkembangan positif terkait kadar CD4 (cluster of differentiation 4) yang merupakan indikator daya tahan tubuh. Peningkatan kadar CD4 cukup signifikan, dari sekitar 150 cell/ul menjadi 650-720 sel/ul (normal 410-1.100 sel/ul).

Jus Nanas memang tidak untuk mengganti obat-obat Anti Retro Virus ( ARV ), tapi yang tidak bisa mengakses ARV tentu sangat bermanfaat . Salah satu pasien dalam penelitian ini tidak memakai ARV ungkap Maruli saat menjadi pembicara dalam seminar Pencegahan dan Pengobatan AIDS.

Obat HIV Terbaru 2017

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus yang merusak daya tahan tubuh dengan menyerang sistem kekebalan/imunitas tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi tidak berdaya dalam melawan infeksi dan belum ada obat hiv nya.

AIDS

yang merupakan kependekan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome Adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh pada manusia karena virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Secara kasat mata, pada awal-awal seseorang terinfeksi penyakit ini memang tidak terlihat perubahan, baik fisik maupun perilaku, karena memang masa inkubasi penyakit ini relatif lama yaitu 5-10 tahun.

Cara mencegah penularan HIV/AIDS adalah dengan selalu berprilaku hidup sehat.  Berikut beberapa hal yang penting sebagai usaha pencegahan dan penularan Virus HIV/AIDS.

– Ibu hamil yang positif HIV sebaiknya diberitahukan kemungkinan resiko dan kemungkinan-kemungkinan resiko yang timbul terhadap ibu dan bayinya. Sehingga keputusan untuk menyusui bayinya menggunakan ASI bisa dipertimbangkan

– Selalu menggunakan jarum suntik yang steril dan baru ketika akan melakukan penyuntikan

– Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman. Artinya hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin. Karena ini memungkinkan penularan HIV

Obat-Obatan HIV/AIDS

Berikut ini beberapa jenis obat-obatan yang dikenal di dunia kedokteran untuk mengobati orang-orang yang positif mengidap HIV.

– DDI (Diseoxycitidine), Obat ini cara bekerjanya tidak jauh berbeda dengan AZT. Yaitu mampu menahan reproduksi virus HIV dalam darah. Obat ini telah diujicoba dan efek sampingnya tidak begitu fatal.

– AZT (Azidothymidine), Obat ini diperkirakan mampu menahan perkembangan virus HIV. Namun penggunaan obat ini mengandung efek samping. Yaitu  gangguan pada tulang sumsum dan penderita mengalami anemia. Dan penderita harus menjalani transfusi darah.

– DDC (Zalcitabine), seperti AZT dan DDI, obat ini mampu menghambat perkembangan virus HIV.

Ketiga obat tersebut telah mendapat rekomendasi dari badan yang berwenang di Amerika Serikat. Menurut para ahli obat tersebut mampu memperpanjang umur penderita hingga satu sampai dua tahun. Efek samping dari DDI dan DDC dapat mengganggu pankreas dan ganguan syaraf.

Para ahli kedokteran dari jepang juga menemukan obat-obatan untuk penderita penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan menurut para ahli dari jepang adalah;

– M-HAD (Meiji Humin Derivetize Al-bumin). Ramuan obat ini terbuat dari gabungan antara Carbodimine Humin dan Succiny Lated Humen Al-bumin) yang terkandung dalam darah manusia. Kabarnya M-HAD mampu menyingkirkan sel-sel tubuh yang digerogoti oleh HIV dengan tidak membahayakan limposit normal.

– Tachiplesin, adalah cairan kimia yang diambil dari hewan sejenis kepiting yang dinamakan T-220. Ramuan ini telah diujicoba pada tikus dan hasilnya sangat memuaskan. Namun masih memberikan efek samping seperti AZT.

– Daging ikan gabus juga kabarnya dapat menambah berat badan bagi orang yang mengidap virus HIV.

Obat Antiretroviral (ARV)

Ini adalah salah satu jenis obat yang dikembangkan untuk menghentikan kerusakan sel dalam tubuh akibat dari infeksi HIV.

Cara mengobati HIV AIDS ini juga bisa digunakan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga bisa mencegah kerusakan sel tubuh yang lebih parah. Obat ini diperlukan seumur hidup bagi penderita HIV AIDS. Berhenti dari perawatan ini akan membuat tubuh menjadi lebih resisten sehingga perawatan harus dilakukan secara terus menerus.

Herbal untuk Penyakit HIV

Herbal yang mampu memperlambat perkembangan virus HIV yaitu Noni juice. Dari sekitar 150 pasien penderita HIV, setelah diberikan herbal Noni juice, sejumlah 55 pasien tertolong. Ini membuktikan bahwa herbal Noni juice memang bagus untuk dikonsumsi oleh seseorang yang terkena atau terinfeksi oleh virus HIV.

Obat HIV Azt

HIV (Human Immunodeficiency Virus) didefinisikan sebagai individu dengan infeksi HIV sesuai dengan fase klinik (termaksuk fase klinik 4 yang dikenal sebagai AIDS) yang dikuatkan oleh Kriteria laboratorium oleh masing-masing Negara.

HIV yang menurut perkiraan sudah lama sekali terdapat pada binatang liar. Akibat kontak erat dengan, khususnya, binatang-binatang mengerat, virus telah “meloncat” ke manusia. Terutama pada dasawarsa terakhir, obat HIV dan beberapa virus lainnya (antara lain virus Ebola) telah muncul dari hutan rimba.

HIV dengan cepat menyebar keseluruh dunia, karena bertahun-tahun penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun. Selama masa inkubasi panjang itu, pembawa virus (orang-orang seropositif) yang masih sehat dan tanpa keluhan dapat menularkan virus kepada orang lain sebelum dirinya menjadi sakit dan kemudian meninggal.

HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein.

Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Diagnosis HIV

Hanya dengan menjalani tes HIV, kita bisa tahu pasti apakah kita terinfeksi atau tidak. Makin cepat HIV terdeteksi, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi. Jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV, konsultasikan kepada dokter atau klinik kesehatan terdekat.

Jangan menunda penanganan setelah Anda tahu telah terinfeksi HIV. Jika terlambat, virus bisa dengan cepat menyebar ke dalam sistem kekebalan tubuh. Hal ini bisa mengganggu kesehatan Anda. Anda juga bisa menghindari penyebaran virus kepada orang-orang terdekat atau pun kepada orang lain.

Melakukan Tes HIV/AIDS

Untuk menguji apakah kita terinfeksi HIV, satu tes yang paling umum adalah tes darah. Darah akan diperiksa di laboratorium. Tes ini berfungsi untuk menemukan antibodi terhadap HIV di dalam darah.

Tapi, tes darah ini baru bisa dipercaya jika dilakukan setidaknya sebulan setelah terinfeksi HIV, karena antibodi terhadap HIV tidak terbentuk langsung setelah infeksi awal. Antibodi terhadap HIV butuh waktu sekitar dua minggu hingga enam bulan, sebelum akhirnya muncul di dalam darah.

Masa antara infeksi HIV dan terbentuknya antibodi yang cukup untuk menunjukkan hasil tes positif disebut sebagai “masa jendela”. Pada masa ini, seseorang yang terinfeksi HIV sudah bisa menularkan virus ini, meski dalam tes darah tidak terlihat adanya antibodi terhadap HIV dalam darah.

Salah satu cara mendiagnosis HIV selain dengan tes darah adalah Tes “Point of care”. Pada tes ini, sampel liur dari mulut atau sedikit tetes darah dari jari akan diambil, dan hasilnya akan keluar hanya dalam beberapa menit.

Sebelum seseorang diberikan diagnosis yang pasti, perlu dilakukan beberapa kali tes untuk memastikan. Hal ini dikarenakan masa jendela HIV cukup lama. Jadi, hasil tes pertama yang dilakukan belum tentu bisa dipercaya. Lakukan tes beberapa kali jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV.

Jika dinyatakan positif HIV, beberapa tes harus dilakukan untuk memerhatikan perkembangan infeksi. Setelah itu, barulah bisa diketahui kapan harus memulai pengobatan terhadap HIV.

Obat AZT

Fakta AZT yang terkesan sebagai obat yang paling bagus tanpa efek samping yang berbahaya. Informasi tersebut merupakan informasi khas yang di berikan kepada pengguna potensial (yaitu mereka yang terdiagnosa HIV).

Hal yang paling mengejukan adalah bahwa informasi tersebut tidak memberitahukan hal yang sebenarnya bahwa AZT sebelumnya merupakan obat kanker yang di temukan sangat berhahaya (toxic) yang telah dilarang penggunaannya.

Ketika anda mempertimbangankan bagaimana beracunnya dan bagaimana deskruktifnya kemoterapi kanker yang kemudian obat toxic ini digunakan untuk penderita “HIV” anda pasti akan mengetahui seberapa toxic nya AZT.

AZT bisa dikatakan dapat menyebabkan pembunuhan massal (genocide) bagi mereka yang telah mengkonsumsi obat tersebut. Seperti anda ketahui (ilmuwan berkata) retrovirus tidak menyebabkan AIDS. Sebenarnya mereka tidak mati karena HIV, tetapi kebanyakan dari treatment (penggunaan obat tersebut). AZT membunuh semua sel.

Bukan hanya membunuh sel kanker atau sel HIV, tetapi SEMUA SEL, termasuk sel yang berasal dari sistem imun. Jadi mereka berkata bahwa mereka terdiagnosa HIV, (virus yang lemah tidak akan pernah merusak sstem kekebalan tubuh) Kemudian orang-orang tersebut di beri AZT dan obat HIV lainnya yang katanya untuk mencegah datang nya AIDS.

Padahal sebaliknya, AZT menghancurkan sistem imun, sama seperti yang terjadi pada terapi kanker, dan kemudian pasien akan meninggal dunia.

Pertanyaannya apakah AZT bisa di identifikasi sebagai penyebab kematian? TIDAK,TENTU SAJA TIDAK. Karena Dokter yang anda percaya pasti akan mengatakan bahwa HIV lah yang menyebabkan pasien tersebut meninggal dunia karena mereka tidak lebih pintar dari kita. Dokter hanya mengikuti SOP/ prosedur dari atasan, layaknya menggunakan kecamata kuda.

Hampir semua dokter bukanlah seorang penyembuh, mengapa? Karena di kendalikan oleh administrator kartel obat global yang berkuasa penuh. Artinya dokter tidak tahu apakah obat ini bagus atau tidak untuk diberikan kepada pasien.

Sekarang ini, penipuan mematikan ini sedang terjadi di Afrika, yang sebelumnya tidak memiliki akses untuk mendapatkan obat ini karena terlalu mahal, sekarang ini seperti kemenangan mutlak bagi mereka (pemasar), karena dengan adanya penurunan harga obat tersebut, para odha disana berlomba-lomba untuk mendapatkan dan mengkonsumsi obat tersebut.

Sehingga para ilmuwan secara mengejutkan mengatakan bahwa apabila hal ini tidak segera dihentikan, maka populasi penduduk di Afrika akan menurun drastis, penurunan ini bukan karena HIV, tetapi karena AZT itu sendiri.

Obat Orang Kena HIV

Pergaulan yang salah dan kondisi sosial jaman sekarang memang memungkinkan wabah HIV berkembang luas, virus HIV semakin mudah menjangkiti orang lain karena pengaruh sosial yang salah. Karena obat hiv ini belum ditemukan anda dapat melihat faktanya di surat kabar yang sering kali menunjukkan informasi jika tingkat perkembangan pasien penderita HIV di negara Indonesia dari waktu ke waktu semakin tinggi.

Penyebaran HIV

HIV tidak menular semudah itu ke orang lain. Virus ini tidak menyebar melalui udara seperti virus batuk dan flu. HIV hidup di dalam darah dan beberapa cairan tubuh. Tapi cairan seperti air liur, keringat, atau urine tidak bisa menularkan virus ke orang lain. Ini dikarenakan kandungan virus di cairan tersebut tidak cukup banyak. Cairan yang bisa menularkan HIV ke dalam tubuh orang lain adalah:

– Darah

– Air Susu Ibu

– Sperma

– Dinding anus

– Cairan vagina, termasuk darah menstruasi

HIV tidak tertular dari ciuman, air ludah, gigitan, bersin, berbagi perlengkapan mandi, handuk, peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, digigit binatang atau serangga seperti nyamuk. Cara yang utama agar virus bisa memasuki ke dalam aliran darah adalah:

– Melalui luka terbuka di kulit.

– Melalui dinding tipis di dalam anus atau alat kelamin.

– Melalui dinding tipis pada mulut dan mata.

– Melalui suntikan langsung ke pembuluh darah memakai jarum atau suntikan yang terinfeksi.

Melalui hubungan seks

Penyebaran virus yang paling utama adalah dengan cara hubungan seks melalui vagina dan anal tanpa pelindung. Seks oral tanpa pelindung juga berisiko terinfeksi, tapi risikonya cukup kecil.

Penyebaran HIV melalui seks oral akan meningkat jika orang yang melakukan seks oral sedang sariawan atau terdapat luka di mulut. Atau melakukan seks dengan orang yang baru saja terinfeksi HIV dan punya banyak virus di tubuhnya.

– Tinggi rendahnya risiko penularan HIV berbeda-beda, tergantung pada jenis hubungan seks yang dilakukan.

– Melakukan seks oral pada pria yang positif HIV, dan pria itu ejakulasi di mulut.

– Penularan HIV bisa terjadi ketika kita lakukan seks oral pada wanita yang positif mengidap HIV, terutama saat sang wanita sedang menstruasi, meski risikonya kecil.

– Menerima seks oral dari orang yang menderita HIV risikonya sangat rendah, karena HIV tidak menular melalui air liur.

Selain melalui hubungan seks, HIV bisa menular melalui:

– Tranfusi darah.

– Dari ibu kepada bayi, baik saat kehamilan, melahirkan, atau ketika menyusui.

– Berbagi jarum, baik untuk menindik atau menato.

– Berbagi suntikan, terutama bagi para panasun (pengguna narkotika suntik).

– Berbagi alat bantu seks dengan pengidap HIV.

Pengaruh HIV Pada Tubuh Manusia

Sistem kekebalan tubuh bertugas melindungi kita dari penyakit yang menyerang. Salah satu unsur yang penting dari sistem kekebalan tubuh adalah sel CD4 (salah satu jenis sel darah putih). Sel ini melindungi dari beragam bakteri, virus, dan kuman lainnya.

HIV menginfeksi sistem kekebalan tubuh. Virus memasuki sistem kekebalan pada sel CD4. Virus ini memanfaatkan sel CD4 untuk menggandakan dirinya ribuan kali. Virus yang menggandakan diri ini akan meninggalkan sel CD4 dan membunuhnya pada waktu yang sama. Makin banyak sel CD4 yang mati, sistem kekebalan tubuh akan makin rendah. Hingga akhirnya, sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi.

Ketika proses ini terjadi, tubuh akan tetap merasa sehat dan tidak ada masalah. Kondisi ini bisa berlangsung selama 10 tahun atau bahkan lebih. Dan penderita bisa menyebarkan virus pada periode ini.

Orang-orang yang Berisiko Terinfeksi HIV

Ingatlah bahwa semua orang berisiko terinfeksi HIV, tanpa mengenal batasan usia. Tapi terdapat beberapa kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi HIV. Mereka adalah:

– Orang yang membuat tato atau melakukan tindik.

– Pengguna narkotika suntik (panasun).

– Orang yang melakukan hubungan seks tanpa kondom baik sesama jenis kelamin, maupun heteroseksual.

– Orang yang tinggal atau sering bepergian ke daerah-daerah dengan angka HIV tinggi, misalnya Afrika, Eropa Timur, Asia, dan Amerika bagian selatan.

– Orang yang melakukan hubungan seks dengan pengguna narkotika suntik.

– Orang yang melakukan transfusi darah di daerah dengan angka HIV tinggi.

– Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain.

Obat ARV untuk Penderita HIV

ARV berguna untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

ARV bekerja dengan cara mengontrol proses replikasi dari HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan membuat salinan palsu dari DNA. Hal itu membuat HIV tampak seperti bagian normal dari tubuh yang tidak mengancam, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak bisa mendeteksi virus dan keberadaan HIV dalam tubuh tetap aman.

Untuk mendapatkan manfaat ARV, pengidap HIV harus mengonsumsi obat seumur hidup. Sebab, jika tidak, pertumbuhan virus di tubuh tidak terkontrol dan bisa juga muncul resistensi terhadap obat.

Namun, sebelum mengonsumsi ARV, penderita harus terlebih dulu berkonsultasi pada dokter. Pasien yang akan menggunakan ARV juga harus memiliki orang yang bisa mengingatkan untuk selalu minum obat atau biasa disebut Pemantau Meminum Obat (PMO). Di Indonesia, hal tersebut sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan.

Kendati terlihat sederhana, mengonsumsi ARV tidak semudah itu. Harus meminum obat rutin seumur hidup, belum lagi harus merasakan efek sampingnya, membuat para penderita HIV tidak betah mengonsumsi ARV.

Ketika mengonsumsi ARV, pengidap HIV akan mengalami efek samping seperti kepala pusing, tubuh terasa melayang, dan mendapat mimpi-mimpi aneh. Lebih lanjut, ARV membuat orang yang mengonsumsi berisiko mengidap penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes, kanker, stroke, hingga fungsi ginjal yang menurun.

Meskipun belum mampu menyembuhkan HIV secara menyeluruh, tapi sejauh ini terapi ARV dipercaya bisa menurunkan angka kematian dan rasa sakit, meningkatkan kualitas hidup ODHA, dan meningkatkan harapan masyarakat. Setidaknya, ARV membawa citra baru tentang AIDS, yaitu sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dan tidak lagi dianggap sebagai penyakit yang menakutkan.

Obat HIV Dari Lebah

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit.

HIV belum bisa disembuhkan, tapi ada obat hiv yang bisa digunakan untuk memperlambat perkembangan penyakit. Pengobatan ini juga akan membuat penderitanya hidup lebih lama, sehingga bisa menjalani hidup dengan normal.

Virus HIV ini jika sudah menginfeksi tubuh seseorang, maka virus tersebut akan menyerang sistem antibodi inangnya, pada akhirnya orang yang terinfeksi akan mudah terserang beragam penyakit lain, sebelumnya jika penyakit tersebut tidak terlalu berbahaya, tetapi karena terinfeksi HIV, maka penyakit tersebut bisa berubah menjadi penyakit yang berbahaya karena tidak kunjung sembuh.

Unsur utama dari sistem antibodi tubuh manusia yaitu sel darah putih (Sel CD4). Pada tubuh seseorang yang terinfeksi virus HIV, maka sel darah putihnya akan dibunuh virus HIV sewaktu virus tersebut menggandakan diri pada darah penderita. Seiring waktu, semakin banyak sel CD4 yang tak lain adalah antibodi tubuh dibunuh, dan sel CD4 akan menurun terus jumlahnya.

Karenanya, tes yang biasa digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang terjangkit virus HIV atau tidak adalah dengan melihat jumlah sel CD4 yang dimilikinya. Kadar normal dari sel CD4 yaitu 500 hingga 1500, namun apabila orang tersebut terinfeksi virus HIV, maka kadar sel CD4 akan berada di bawah normal.

Infeksi HIV muncul dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah serokonversi (Periode waktu tertentu di mana antibodi HIV sudah mulai berkembang untuk melawan virus.). Tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala yang muncul. Dan tahap yang ketiga adalah infeksi HIV berubah menjadi AIDS.

Tahap Pertama

Orang yang terinfeksi virus HIV akan menderita sakit mirip seperti flu. Setelah ini, HIV tidak menimbulkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Gejala seperti flu ini akan muncul beberapa minggu setelah terinfeksi. Masa waktu inilah yang sering disebut sebagai serokonversi.

Diperkirakan, sekitar 8 dari 10 orang yang terinfeksi HIV mengalami ini. Gejala yang paling umum terjadi adalah:

– Tenggorokan sakit

– Demam

– Muncul ruam di tubuh, biasanya tidak gatal

– Pembengkakan noda limfa

– Penurunan berat badan

– Diare

– Kelelahan

– Nyeri persendian

– Nyeri otot

Gejala-gejala di atas bisa bertahan selama satu hingga dua bulan, atau bahkan lebih lama. Ini adalah pertanda sistem kekebalan tubuh sedang melawan virus. Tapi, gejala tersebut bisa disebabkan oleh penyakit selain HIV. Kondisi ini tidak semata-mata karena terinfeksi HIV.

Lakukan tes HIV jika Anda merasa berisiko terinfeksi atau ketika muncul gejala yang disebutkan di atas. Tapi perlu diingat, tidak semua orang mengalami gejala sama seperti yang disebutkan di atas. Jika merasa telah melakukan sesuatu yang membuat Anda berisiko terinfeksi, kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk menjalani tes HIV.

Tahap Kedua

Setelah gejala awal menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun (masa jendela). Ini adalah tahapan ketika infeksi HIV berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Virus yang ada terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh.

Pada tahapan ini, Anda akan merasa sehat dan tidak ada masalah. Kita mungkin tidak menyadari sudah mengidap HIV, tapi kita sudah bisa menularkan infeksi ini pada orang lain. Lama tahapan ini bisa berjalan sekitar 10 tahun atau bahkan bisa lebih.

Tahap Ketiga atau Tahap Terakhir Infeksi HIV

Jika tidak ditangani, HIV akan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Dengan kondisi ini, Anda akan lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini lebih dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Berikut ini adalah gejala yang muncul pada infeksi HIV tahap terakhir:

– Noda limfa atau kelenjar getah bening membengkak pada bagian leher dan pangkal paha.

– Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.

– Merasa kelelahan hampir setiap saat.

– Berkeringat pada malam hari.

– Berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya.

– Bintik-bintik ungu yang tidak hilang pada kulit.

– Mudah memar atau berdarah tanpa sebab.

– Sesak napas.

– Diare yang parah dan berkelanjutan.

– Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, atau vagina.

Berantas HIV Dengan Racun Lebah

Tuhan menurunkan lebah ke dunia membawa kemanfaatan besar bagi manusia. Sengatan dan produk turunnya membantu mengatasi berbagai penyakit, dari alergi, gangguan syaraf,gangguan peredaran darah,gangguan viris dan bakteri jahat sampai meningkatkan daya tahan tubuh.

Bahkan racun-racun serangga ini ternyata juga mampu membunuh Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan membuka harapan baru penderita AIDS untuk bisa di sembuhkan. Itulah hasil penelitian Ilmuwan dari Washington University di St Louis yang dipublikasikan di jurnal Antiviral Therapy baru-baru ini.

Peneltian tersebut menguraikan bahwa, penggunaan racun lebah bernama mellitin dan partikel nano yang masuk dalam darah mampu membunuh virus yang membahayakan manusia ini.

Pemberian racun lebah/bee venom pada penderita hiv ditujukan untuk membunuh virus karena bagian dari bee venom yaitu “melittin” yang berukuran sangat kecil inilah yang bertugas membunuh virus hiv tanpa merusak bagian tubuh yang baik.

Kemudian pemberian obat-obatan berfungsi menguatkan sistem imun tubuh,memperbaiki metabolisme tubuh sehingga pengobatan scara bersamaan menggunakan racun lebah dan obat akan membuat penderita hiv benar-benar sembuh dan virus menjadi non reaktif.

Obat HIV Dari Minyak Kelapa

HIV AIDS merupakan sebuah penyakit yang mengerikan dan berbahaya, karena penyakit ini bisa menular. Dan hampir semua orang takut akan bahaya penyakit ini, mengapa demikian? Sebab, penyakit ini juga bisa memicu terjadinya kematian.

Dewasa ini, penyakit HIV AIDS sering terjadi pada banyak kalangan, baik itu anak-anak, remaja, dan orang dewasa dan belum ada obat hiv nya. HIV AIDS merupakan penyakit yang terjadi diakibatkan oleh virus yang menyerang sistem imunitas tubuh, yang membuat pengidap penyakit ini berkurang kemampuannya untuk mempertahankan dirinya dari suatu serangan penyakit.

HIV adalah singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus” yang merupakan virus yang diperkirakan bisa menyebabkan AIDS “Acquired Immune-Deficiency Syndrome” yakni penyakit yang diakibatkan karena sistem imunitas tubuh yang menurun, sistem imunitas tubuh yang melemah tidak cuma diakibatkan oleh HIV melainkan dapat dipicu oleh penyakit-penyakit lainnya.

Penyakit yang terlalu lama menyarang didalam tubuh manusia & tidak lekas sembuh dapat membuat keadaan tubuh menjadi lemah dan sudah pasti sistem imunitas tubuhnya pun juga melemah.

Namun lambat laun seiring dengan perkembangan virus HIV di dalam tubuh yang mengerogoti sistem imun kita, maka akan tampak gejala-gejala yang akan timbul. Berikut gejala-gejala penyakit HIV/AIDS :

– Mual, Muntah, dan Diare.

– Demam. Suhu tubuh mencapai 38 derajat Celsius dan biasanya diikuti sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening dan kelelahan.

– Nyeri Otot. Virus HIV biasanya menyerang kelenjar getah bening yang merupakan bagian dai sistem imun. Kelenjar ini berada di ketiak, paha dan leher, sehingga menyebabkan nyeri otot.

– Ruam Kulit, Terdapat bercak kemerahan di sekujur tubuh.

– Berat Badan Turun. Penurunan berat badan terjadi karena diare yang berkepanjangan dan penyerapan asupan gizi yang tidak maksimal.

– Batuk Kering

– Kebas dan Rasa Kesemutan

– Mudah dan sering lelah.

– Infeksi Jamur

– Radang Paru-Paru

– Perubahan pada kuku. Seperti mudah patah, rapuh dan perubahan warna.

– Berkeringat di malam hari.

Obat HIV Minyak Kelapa

Minyak kelapa terdiri dari kelompok yang unik dari lemak yang dikenal sebagai trigliserida rantai menengah (MCT). Ketika dimakan, tubuh kita mengubah MCT menjadi asam lemak rantai menengah (MCFA) dan monogliserida, yang keduanya memiliki sifat antivirus yang kuat.

Pengetahuan tentang fungsi minyak kelapa terhadap HIV telah beredar di komunitas penderita AIDS sejak Halldór Thormar peneliti asal Islandia mulai menekuni studi tentang topik ini di awal 1990-an.

Sejak itu, orang yang terinfeksi HIV telah menuturkan keberhasilan mereka menurunkan efektivitas virus dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh dengan menambahkan minyak kelapa atau produk kelapa untuk diet mereka.

Di jamaika, minyak kelapa ini dianggap sebagai zat yang dipakai untuk mengembalikan keadaan normal jaringan (tonik) kesehatan yang bagus untuk jantung serta sebagai obat alami HIV. Baru-baru kali inilah khasiat dan manfaat ini mulai dikenal diseluruh dunia.

Dan juga tak seperti lemak yang lain, minyak kelapa ini mampu menjaga tubuh dari serangan penyakit kanker, jantung, diabetes dan penyakit degeneratif lainnya.

Minyak ini mendorong dan memperkuat sistem imunitas sehingga dapat membantu tubuh untuk melawan serangan infeksi & penyakit. Minyak yang satu ini unik dan beda dengan minyak minyak jenis lainnya, dikarenakan minyak ini dapat menurunkan berat badan secara cepat, yang membuat minyak kelapa ini dikenal sebagai satu-satunya lemak rendah kalori.

Hasil uji klinik juga menopang laporan hasil pengamatan lapangan, bahwasanya kalau minyak kelapa itu efektif menjadi obat HIV AIDS alami.

Rupanya bahan aktif yang sifatnya seperti antibiotika yang dikandung dalam minyak kelapa itu merupakan kumpulan Saturated Mediun Chain Fatty Acids, yang terdiri dari tiga macam asam lemak, yaitu asam laurat (Lauric acid), asam kaprilik (Caprylic acid), dan juga asam kaprik (Capric acid).