Obat HIV Lini 3

obat hiv lini 3

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh menjadi lemah sehingga tidak dapat melawan infeksi dan penyakit. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari acquired immunodeficiency syndrome yaitu sekumpulan gejala penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga dapat mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus HIV.

Dengan kata lain AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV, ketika tubuh tidak lagi bisa melawan infeksi yang dapat mengancam jiwa. Dengan diagnosis dini dan mengetahui gejala HIV AIDS dan obat hiv yang efektif, kebanyakan orang dengan HIV tidak akan terus mengembangkan AIDS.

Gejala AIDS

Definisi AIDS termasuk semua orang terinfeksi HIV yang memiliki kurang dari 200 sel CD4+ per mikroliter darah. Definisi ini juga mencakup 26 kondisi penyakit yang umum pada penyakit HIV lanjut, tetapi yang jarang terjadi pada orang sehat.

Artinya orang yang terkena HIV karena kekebalan tubuhnya lemah, maka akan mudah terserang infeksi baik oleh bakteri, virus, jamur, parasit, maupun organisme lainnya kondisi ini disebut dengan infeksi oportunistik. Jadi yang menjadi gejala dan penderitaan adalah infeksi yang menyerang (oportunistik), bukan penyakit AIDS itu sendiri.

Tanda-tanda dan gejala AIDS yang merupakan tanda-tanda infeksi oportunistik adalah sebagai berikut:

– Keringat berlebihan di malam hari

– Sulit atau sakit saat menelan

– Menggigil atau demam lebih tinggi dari 100 F (38 C) selama beberapa minggu

– Batuk, karena seringnya terkena peradangan atau infeksi di tenggorokan.

– Sesak napas, bisa terjadi akibat pneumonia atau paru-paru basah yang sering disebabkan oleh mikoorganisme pneumocystic carinii.

– Diare kronis, maksudnya adalah menderita diare yang lama meskipun telah diobati namun tak kunjung sembuh.

– Bintik-bintik putih Persistent atau lesi yang tidak biasa di lidah atau di mulut (sariawan)

– Penglihatan kabur dan terdistorsi

– Sakit kepala

– Kelelahan yang terus menerus

– Berat badan turun drastis

– Ruam kulit atau benjolan

Obat ARV

Antiretrovirals (ARV) telah diakui dunia sebagai obat yang bisa digunakan untuk mengobati HIV/AIDS. Namun, ARV belum mampu menyembuhkan HIV secara menyeluruh.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 87 Tahun 2014 disebutkan, ARV berguna untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat perburukan infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

ARV bekerja dengan cara mengontrol proses replikasi dari HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan membuat salinan palsu dari DNA. Hal itu membuat HIV tampak seperti bagian normal dari tubuh yang tidak mengancam, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak bisa mendeteksi virus dan keberadaan HIV dalam tubuh tetap aman.

Untuk mendapatkan manfaat ARV, pengidap HIV harus mengonsumsi obat seumur hidup. Sebab, jika tidak, pertumbuhan virus di tubuh tidak terkontrol dan bisa juga muncul resistensi terhadap obat.

Menghadapi tantangan resistensi HIV, efek samping anti-retroviral (ARV), dan ko-infeksi hepatitis C, Indonesia berencana meningkatkan pengadaan obat-obat penting secara terbatas dengan harga lebih terjangkau.

Obat-obatan itu antara lain ARV lini ke-3 bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang resisten dengan obat lini ke-1 dan 2, serta obat hepatitis C. Lini ketiga akan kita coba adakan namun jumlahnya lebih sedikit.

Sjamsuridjal mengatakan, untuk awalnya ARV lini ke-3 itu bisa didapatkan dengan gratis untuk ODHA yang membutuhkan. Namun jika kebutuhannya banyak akan dipikirkan kemudian pembiayaannya.

Selain obat lini ketiga, Indonesia juga berencana menyediakan alternatif bagi Efavirenz, salah satu jenis ARV lini pertama yang banyak dipakai.

Efavirenz sebenarnya obat yang menyenangkan dengan efek samping pada fungsi hati lebih rendah. Tapi ada satu hal yang tidak disukai dari obat ini, yaitu membuat melayang, dan halusinasiEfek tersebut akan memengaruhi kualitas hidup ODHA. Indonesia berencana menyediakan Rilpivirine sebagai alternatif Efavirenz. Efek samping obat itu lebih sedikit namun kekuatannya menghambat HIV juga lebih rendah.