Obat HIV Azt

obat hiv azt

HIV (Human Immunodeficiency Virus) didefinisikan sebagai individu dengan infeksi HIV sesuai dengan fase klinik (termaksuk fase klinik 4 yang dikenal sebagai AIDS) yang dikuatkan oleh Kriteria laboratorium oleh masing-masing Negara.

HIV yang menurut perkiraan sudah lama sekali terdapat pada binatang liar. Akibat kontak erat dengan, khususnya, binatang-binatang mengerat, virus telah “meloncat” ke manusia. Terutama pada dasawarsa terakhir, obat HIV dan beberapa virus lainnya (antara lain virus Ebola) telah muncul dari hutan rimba.

HIV dengan cepat menyebar keseluruh dunia, karena bertahun-tahun penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun. Selama masa inkubasi panjang itu, pembawa virus (orang-orang seropositif) yang masih sehat dan tanpa keluhan dapat menularkan virus kepada orang lain sebelum dirinya menjadi sakit dan kemudian meninggal.

HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein.

Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Diagnosis HIV

Hanya dengan menjalani tes HIV, kita bisa tahu pasti apakah kita terinfeksi atau tidak. Makin cepat HIV terdeteksi, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi. Jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV, konsultasikan kepada dokter atau klinik kesehatan terdekat.

Jangan menunda penanganan setelah Anda tahu telah terinfeksi HIV. Jika terlambat, virus bisa dengan cepat menyebar ke dalam sistem kekebalan tubuh. Hal ini bisa mengganggu kesehatan Anda. Anda juga bisa menghindari penyebaran virus kepada orang-orang terdekat atau pun kepada orang lain.

Melakukan Tes HIV/AIDS

Untuk menguji apakah kita terinfeksi HIV, satu tes yang paling umum adalah tes darah. Darah akan diperiksa di laboratorium. Tes ini berfungsi untuk menemukan antibodi terhadap HIV di dalam darah.

Tapi, tes darah ini baru bisa dipercaya jika dilakukan setidaknya sebulan setelah terinfeksi HIV, karena antibodi terhadap HIV tidak terbentuk langsung setelah infeksi awal. Antibodi terhadap HIV butuh waktu sekitar dua minggu hingga enam bulan, sebelum akhirnya muncul di dalam darah.

Masa antara infeksi HIV dan terbentuknya antibodi yang cukup untuk menunjukkan hasil tes positif disebut sebagai “masa jendela”. Pada masa ini, seseorang yang terinfeksi HIV sudah bisa menularkan virus ini, meski dalam tes darah tidak terlihat adanya antibodi terhadap HIV dalam darah.

Salah satu cara mendiagnosis HIV selain dengan tes darah adalah Tes “Point of care”. Pada tes ini, sampel liur dari mulut atau sedikit tetes darah dari jari akan diambil, dan hasilnya akan keluar hanya dalam beberapa menit.

Sebelum seseorang diberikan diagnosis yang pasti, perlu dilakukan beberapa kali tes untuk memastikan. Hal ini dikarenakan masa jendela HIV cukup lama. Jadi, hasil tes pertama yang dilakukan belum tentu bisa dipercaya. Lakukan tes beberapa kali jika Anda merasa berisiko terinfeksi HIV.

Jika dinyatakan positif HIV, beberapa tes harus dilakukan untuk memerhatikan perkembangan infeksi. Setelah itu, barulah bisa diketahui kapan harus memulai pengobatan terhadap HIV.

Obat AZT

Fakta AZT yang terkesan sebagai obat yang paling bagus tanpa efek samping yang berbahaya. Informasi tersebut merupakan informasi khas yang di berikan kepada pengguna potensial (yaitu mereka yang terdiagnosa HIV).

Hal yang paling mengejukan adalah bahwa informasi tersebut tidak memberitahukan hal yang sebenarnya bahwa AZT sebelumnya merupakan obat kanker yang di temukan sangat berhahaya (toxic) yang telah dilarang penggunaannya.

Ketika anda mempertimbangankan bagaimana beracunnya dan bagaimana deskruktifnya kemoterapi kanker yang kemudian obat toxic ini digunakan untuk penderita “HIV” anda pasti akan mengetahui seberapa toxic nya AZT.

AZT bisa dikatakan dapat menyebabkan pembunuhan massal (genocide) bagi mereka yang telah mengkonsumsi obat tersebut. Seperti anda ketahui (ilmuwan berkata) retrovirus tidak menyebabkan AIDS. Sebenarnya mereka tidak mati karena HIV, tetapi kebanyakan dari treatment (penggunaan obat tersebut). AZT membunuh semua sel.

Bukan hanya membunuh sel kanker atau sel HIV, tetapi SEMUA SEL, termasuk sel yang berasal dari sistem imun. Jadi mereka berkata bahwa mereka terdiagnosa HIV, (virus yang lemah tidak akan pernah merusak sstem kekebalan tubuh) Kemudian orang-orang tersebut di beri AZT dan obat HIV lainnya yang katanya untuk mencegah datang nya AIDS.

Padahal sebaliknya, AZT menghancurkan sistem imun, sama seperti yang terjadi pada terapi kanker, dan kemudian pasien akan meninggal dunia.

Pertanyaannya apakah AZT bisa di identifikasi sebagai penyebab kematian? TIDAK,TENTU SAJA TIDAK. Karena Dokter yang anda percaya pasti akan mengatakan bahwa HIV lah yang menyebabkan pasien tersebut meninggal dunia karena mereka tidak lebih pintar dari kita. Dokter hanya mengikuti SOP/ prosedur dari atasan, layaknya menggunakan kecamata kuda.

Hampir semua dokter bukanlah seorang penyembuh, mengapa? Karena di kendalikan oleh administrator kartel obat global yang berkuasa penuh. Artinya dokter tidak tahu apakah obat ini bagus atau tidak untuk diberikan kepada pasien.

Sekarang ini, penipuan mematikan ini sedang terjadi di Afrika, yang sebelumnya tidak memiliki akses untuk mendapatkan obat ini karena terlalu mahal, sekarang ini seperti kemenangan mutlak bagi mereka (pemasar), karena dengan adanya penurunan harga obat tersebut, para odha disana berlomba-lomba untuk mendapatkan dan mengkonsumsi obat tersebut.

Sehingga para ilmuwan secara mengejutkan mengatakan bahwa apabila hal ini tidak segera dihentikan, maka populasi penduduk di Afrika akan menurun drastis, penurunan ini bukan karena HIV, tetapi karena AZT itu sendiri.