Obat HIV AIDS Untuk Anak

Obat HIV AIDS Untuk Anak

Saat ini penyebaran HIV dan AIDS tidak hanya mengancam orang dewasa, tapi juga anak-anak. Sebenarnya, bagaimana sih, seorang anak bisa terinfeksi HIV/AIDS? Tanpa Penanganan yang tepat dan program pencegahan, 9 dari 10 anak terinfeksi HIV dari ibunya saat hamil, melahirkan, dan menyusui.

Kebanyakan infeksi HIV pada anak adalah diturunkan melalui ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, dan menyusui. Namun, terimakasih kepada rejimen obat hiv dan pencegahan, sehingga insidensi penularan ibu ke anak untuk HIV menurun.

Sejak pertengahan tahun 1990, tes HIV dan rejimen obat pencegahan memberikan hasil 90% penurunan jumlah anak yang terinfeksi HIV di Amerika Serikat. Kebanyakan kasus anak HIV/AIDS terkonsentrasi di kawasan Afriksa Sub-Sahara.

Penyebab lain HIV meliputi:

Transfusi darah. Transfusi darah menggunakan darah yang terinfeksi atau suntikan dengan jarum suntik yang tidak steril mampu menyebabkan infeksi HIV dan AIDS pada anak. Di Amerika Serikat dan negara maju lainnya, masalah ini telah sepenuhnya terelminasi, namun pada negara miskin hal ini masih terjadi.

Penggunaan obat terlarang dengan cara suntikan. Pada area Eropa Timur dan Tengah, penggunaan obat suntik akan melanjutkan penyebaran HIV di antara orang-orang muda yang hidup di jalanan. Penelitian di Ukraina, prilaku berisiko tinggi seperti penggunaan jarum suntik bergantian, juga terjadi pada anak di bawah usia 10 tahun.

Berikut ini beberapa ciri-ciri HIV AIDS pada bayi dan anak-anak:

  1. Infeksi Paru-Paru

Infeksi paru-paru terjadi pada bayi dan anak-anak yang sudah agak lama menderita HIV AIDS. Hal ini disebabkan karena paru-paru mengalami infeksi yang disebabkan oleh jamur. Jamur bisa masuk ke saluran pernafasan dari luar seperti perantara udara atau berbagai benda berjamur yang kontak langsung dengan tangan serta saluran pernafasan.

Gejala infeksi paru seperti sulit bernafas, nafas yang terasa sangat berat, mudah marah dan tubuh yang sangat lemah. Perawatan di rumah sakit sangat diperlukan untuk menyembuhkan infeksi dan mengurangi resiko penyebaran infeksi.

  1. Pertumbuhan Badan yang Buruk

Bayi dan anak-anak biasanya tidak akan menunjukkan gejala HIV AIDS yang cukup jelas. Salah satu masalah utama yang mudah dikenali adalah ketika bayi dan anak-anak tidak memiliki grafik pertumbuhan yang normal. Bayi dan anak-anak akan lebih terlihat kurus. Pemeriksaan berat badan yang dilakukan setiap bulan sama sekali tidak menunjukkan kemajuan yang berarti.

  1. Sering Kejang

Kejang menjadi pertanda bahwa tubuh bayi dan anak-anak mengalami masalah terutama pada sistem syaraf dan otak. Kejang bisasanya paling sering terjadi ketika anak-anak mengalami panas yang menyebabkan tubuh memberikan reaksi yang sangat berat.

Namun bayi dan anak-anak yang terkena HIV AIDS memiliki tubuh yang sangat lemah sehingga kejang akan lebih sering terjadi. Kondisi ini membutuhkan perawatan khusus karena bisa saja infeksi sudah menyebar ke bagian otak. (baca juga : bahaya epilepsi yang menimbulkan kejang)

  1. Dehidrasi

Bayi dan anak-anak yang terkena HIV AIDS juga cenderung lebih sering mengalami dehidrasi. Kondisi ini disebabkan karena tubuh membutuhkan air yang lebih banyak. Sistem metabolisme yang sudah bermasalah menyebabkan bayi dan anak-anak bisa mengalami kekurangan penyerapan air.

Selain itu, bayi dan anak-anak juga akan sangat rentan dengan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Dehidrasi akan menyebabkan tubuh menjadi sangat lemah dan membutuhkan perhatian khusus.

Tatalakasana HIV dan AIDS pada anak

Karena terjadi kemajuan dalam bidang pengobatan dan pencegahan, maka kematian terkait AIDS di kalangan anak-anak semakin berkurang di dunia.

Terapi HIV dan AIDS biasanya sama pada anak dan dewasaa: kombinasi pengobatan antivirus untuk menjaga virus resisten (tidak mempan terhadap pengobatan). Namun, terdapat pertimbangan spesial ketika mengobati anak. Beberapa obat HIV tidak tersedia dalam bentuk cair seperti sirup atau tetes, dan beberapa obat juga memberikan efek samping serius pada anak.

Meskipun anak-anak tidak menunjukkan tanda atau gejala infeksi HIV, dokter perlu memilih obat untuk meningkatkan kondisi kesehatan dan meningkatkan daya tahan hidup jangka panjang. Dokter seringkali memutuskan apakah pengobatan bergantung pada tes lab viral load (jumlah virus di cairan tubuh) dan kadar sel darah putih (sel kekebalan tubuh) yang disebut sel-T CD4 yang diserang oleh infeksi HIV.

Pengobatan dan Perawatan

Pengobatan anak dengan HIV terus berkembang, baik untuk mencegah atau mengobati infeksi oportunistik, maupun ART. Dengan pengobatan tersebut, ada harapan bahwa anak tersebut dapat bertahan hidup lama, seperti orang dewasa yang diberi terapi itu. Walaupun kondisi pengobatan ARV untuk anak bentuknya masih kurang bersahabat.

ARV yang ada terbukti mengembalikan kondisi anak mjd baik. Menurut pedoman ARV untuk Bayi dan Anak 2010 dari WHO. ARV sebaiknya dimulai pada semua bayi yang didiagnosis HIV di bawah usia 24 bulan, tidak memandang jumlah CD4/stadium klinis. WHO menganjurkan agar semua anak yang lahir dari ibu terinfeksi HIV diberi profilaksis kotrimoksazol dari usia 4-6 minggu.

Anak yang terinfeksi HIV sebaiknya diawasi oleh dokter spesialis anak yang berpengalaman menangani HIV. Perawatan & pengobatan paliatif harus diberikan pada anak agar mereka tidak terlalu menerima rasa sakit, dan untuk memberi kenyamanan pada orang tua dan keluarga lain.

Cara terbaik untuk mencegah atau mengobati Infeksi adalah dengan ARV. Anak yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi HIV sebaiknya diperiksa dokter setiap bulan sampai usia tiga bulan, kemudian pada usia enam bulan, dan selanjutnya setiap enam bulan

Pada kunjungan ini, dokter harus memantau keadaan, dan mengobati gejala yang muncul. Penting juga untuk menilai keadaan gizinya pada kunjungan ini. Di luar jadwal ini, orang tua/pengasuh anak juga dianjurkan untuk membawa anak ke dokter bila sakit.

Kekurangan vitamin A adalah umum pada anak dengan HIV, dan ini meningkatkan kemungkinan akan muncul infeksi. Dosis tunggal suplemen vitamin A diusulkan setiap enam bulan. Jika mungkin ada kekurangan zat besi atau asam folat (yang dapat menyebabkan anemia), beri suplemen yang mengandung zat tersebut.

Sebaiknya diberi obat untuk mencegah PCP pada semua anak yang dilahirkan oleh  ibu terinfeksi HIV, dari usia enam minggu. Jika ternyata anak tidak terinfeksi, pencegahan tersebut dapat dihentikan. Obat ini juga akan mencegah infeksi tokso & beberapa infeksi lain.

Semua anak (terutama < 2th) yg berhubungan dengan pasien TB aktif, diusulkan diberi obat pencegahan untuk TB kecuali jika didiagnosis TB aktif, harus segera diobati dan dipantau oleh dokter. Anak-anak sering mengalami kesulitan memakai banyak obat. Takaran harus disesuaikan dengan berat badan anak.